Terik matahari siang itu seolah tak mengenal belas kasihan. Cahayanya menyengat atap seng berkarat yang memayungi rumah kayu berdinding triplek di sudut Kota Bandar Lampung. Di dalam bangunan sederhana itulah seorang wanita paruh baya menatap kosong ke luar jendela kecil yang separuhnya retak.
Namanya tak pernah tercatat di papan proyek mana pun. Ia hanya satu dari sekian warga yang terdampak Penggusuran Tahap II yang dilakukan Pemerintah Provinsi Lampung pada November lalu. Empat bulan sudah berlalu, namun jejak kepastian tak kunjung datang.
Di bulan suci Ramadan, suasana terasa semakin sunyi baginya. Saat azan Magrib berkumandang, dari kejauhan terdengar suara piring dan gelas beradu, tawa anak-anak, serta percakapan hangat keluarga yang berkumpul di rumah permanen mereka. Aroma gorengan dan kolak menyelinap terbawa angin.
Ia hanya duduk di lantai kayu yang mulai lapuk. Di hadapannya, segelas air putih dan sepiring nasi sederhana. “Alhamdulillah, masih bisa makan,” ucapnya pelan, lebih seperti menenangkan hati sendiri.
Suaminya pulang menjelang petang, mendorong gerobak es keliling yang rodanya mulai aus. Wajahnya letih terbakar matahari. Hasil berjualan hari itu tak seberapa. Namun keduanya tak saling menyalahkan. Mereka hanya saling menatap, mencoba kuat dalam diam.
Lebaran semakin dekat. Di luar sana, orang-orang mulai mengecat rumah, mengganti tirai, membeli baju baru. Sementara ia memandangi dinding triplek yang menganga di beberapa sisi, menahan angin malam yang mudah menyusup. Tak ada ruang tamu untuk menyambut sanak saudara. Tak ada pintu kokoh yang bisa ditutup rapat demi rasa aman.
Rumah kayu itu pun bukan miliknya. Ia hanya menumpang atas rasa iba seseorang. Setiap kali hujan turun, suara tetesan air dari sela seng terdengar seperti hitungan waktu yang terus berjalan tanpa kepastian.
Empat bulan pasca penggusuran, bantuan sosial belum juga ia rasakan. Ia tak menuntut banyak. Bukan rumah mewah, bukan pula bangunan bertingkat. Ia hanya ingin satu hal sederhana: tempat tinggal permanen yang bisa ia sebut rumah.
Di bawah langit senja Ramadan, wanita paruh baya itu kembali menengadah. Bukan untuk mengeluh, melainkan untuk berdoa. Semoga suatu hari nanti, ketika takbir Idul Fitri berkumandang, ia tak lagi merasa menjadi tamu di kehidupan sendiri. ***
Oleh: Muhammad Alvacino







