Langit masih mendung ketika air perlahan memasuki rumah-rumah warga di Bandar Lampung Jumat sore, 6 Maret 2026. Hujan deras mengguyur Kota Tapis Berseri membuat sejumlah drainase tak mampu lagi menampung debit air. Waktu singkat, genangan berubah menjadi banjir yang merendam permukiman.
Di satu sudut permukiman, seorang ibu terlihat duduk di depan rumahnya yang masih digenangi air setinggi lutut. Tangannya memegang sapu, membersihkan lumpur yang terbawa banjir ke dalam rumah.
Sesekali ia menatap ke arah perabot yang basah dan berantakan. Wajahnya menyimpan kelelahan sekaligus kesedihan. Suasana bulan suci Ramadan yang biasanya penuh ketenangan berubah menjadi duka.
Warga saling membantu memindahkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Kasur dijemur di pinggir jalan, kursi plastik ditumpuk di tempat yang lebih tinggi, sementara anak-anak hanya bisa berdiri memperhatikan rumah mereka yang terendam.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Lampung mencatat sedikitnya 38 titik banjir tersebar di berbagai wilayah kota. Kecamatan Rajabasa, Way Halim, Sukarame, Sukabumi, Kedamaian, Tanjung Karang Barat, Tanjung Karang Pusat, hingga Enggal menjadi beberapa kawasan yang terdampak cukup parah.
Sebagian warga, banjir ini bukan lagi kejadian baru. Setiap musim hujan datang, rasa cemas selalu menghantui. Mereka khawatir air akan kembali masuk ke rumah, merusak barang-barang yang mereka kumpulkan dengan susah payah.
Kenangan pahit banjir besar awal 2025 di Bandar Lampung juga masih teringat jelas di benak warga. Saat itu, bencana tersebut bahkan menelan korban jiwa.
Kini air mulai surut, warga perlahan membersihkan rumah dan lingkungan mereka. Meski kelelahan dan sedih, mereka tetap berusaha bangkit, berharap suatu hari nanti banjir tak lagi menjadi cerita yang terus berulang di kota ini.
Oleh: Muhammad Alvacino



