KONTEN POP UP
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Imam Ghozali Dilantik Jadi Staf Ahli Gubernur Lampung Pasca-Copot dari Direktur RSUDAM

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal diwakili Sekdaprov Marindo Kurniawan melantik Imam Ghozali sebagai Staf Ahli Gubernur serta dua pejabat fungsional lainnya di Ruang Rapat Utama, Kantor Gubernur, Jumat (9/10/2026). | Foto: Ist

Bandar Lampung, Pojok Sumatera —

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, yang diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan, melantik Imam Ghozali sebagai Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Provinsi Lampung. Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan berlangsung di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur Lampung, Jumat, (9/10/2026).

Pergeseran ini terjadi setelah Imam Ghozali dicopot dari jabatannya sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM). Posisi Direktur RSUDAM kini diisi oleh Lukman Pura.

Selain merotasi Imam Ghozali, Pemprov Lampung melantik dua pejabat fungsional sektor kesehatan. Keduanya yakni Wulan Suci Mokobombang sebagai Psikolog Klinis Ahli Pertama pada Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung dan Jefri Sofian Leksana sebagai Dokter Ahli Pertama pada RSUD Bandar Negara Husada.

Sekdaprov Lampung Marindo Kurniawan menegaskan bahwa rotasi dan mutasi merupakan bagian alami dari dinamika tata kelola birokrasi. Kendati demikian, ia mengingatkan agar para pejabat tidak terjebak pada rutinitas administratif semata.

“Pengabdian kita kepada masyarakat Lampung adalah tugas utama. Di tengah permasalahan yang kompleks, diperlukan pejabat yang mampu merumuskan kebijakan solutif dan peka terhadap persoalan di lapangan,” kata Marindo saat membacakan sambutan Gubernur.

Baca Juga:  Purnama Wulan Sari Mirza Ikuti Vaksinasi HPV Dosis Ketiga untuk Cegah Kanker Serviks

Marindo menaruh perhatian khusus pada tugas baru yang diemban Imam Ghozali. Menurutnya, posisi Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM memegang peranan krusial dalam menyusun pemikiran strategis, terutama saat Lampung menyongsong puncak bonus demografi.

Kualitas pendidikan, kesehatan, produktivitas tenaga kerja, hingga penguatan karakter generasi muda disebut Marindo sebagai pilar yang wajib dikawal. Tanpa skenario kebijakan yang objektif dan terukur, melimpahnya penduduk usia produktif berisiko menjadi beban alih-alih modal pembangunan.

“Bonus demografi adalah peluang sekaligus tantangan besar. Besarnya SDM usia produktif harus kita kelola menjadi kekuatan nyata pembangunan daerah,” ujar Marindo.

Menutup arahannya, Marindo mengingatkan seluruh pejabat yang dilantik bahwa masa jabatan memiliki batas, sehingga integritas dan keikhlasan harus menjadi fondasi kerja.

“Jabatan, pangkat, dan kekuasaan memiliki batas waktu. Yang menjadi legacy adalah nilai kebaikan, karya, keteladanan, dan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat,” tutur Marindo.

(*)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *