Bandar Lampung, pojoksumatera.id – Pemerintah Kota Bandar Lampung terus mempersiapkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai salah satu solusi untuk mengatasi persoalan sampah di wilayah perkotaan.
Saat ini, proyek tersebut telah memasuki tahap penjajakan dengan pihak yang ditetapkan pemerintah pusat sebagai pemenang. Pemkot Bandar Lampung berharap pembangunan fasilitas PSEL dapat mulai dilaksanakan pada akhir 2026 atau paling lambat 2027.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandar Lampung, Budi Ardiyanto, mengatakan proses penjajakan dengan pihak pemenang saat ini masih berlangsung.
“Untuk PSEL, saat ini pemenangnya sudah ada informasi dari pusat. Sekarang sedang dalam proses penjajakan. Mudah-mudahan akhir tahun 2026 atau 2027 sudah mulai proses pembangunan,” ujar Budi, Selasa, (1/9/2026).
Menurutnya, Pemkot Bandar Lampung menargetkan pembangunan fasilitas PISEL dapat rampung pada 2028. Jika terealisasi, seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat diharapkan dapat dikelola dan dikirim ke fasilitas tersebut.
Budi menyebutkan, produksi sampah di Kota Bandar Lampung diperkirakan mencapai sekitar 700 ton per hari. Volume tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam menyediakan sistem pengelolaan sampah yang efektif, modern, dan berkelanjutan.
“Harapannya tahun 2028 PSEL sudah selesai, sehingga semua sampah di Kota Bandar Lampung bisa kita kirimkan ke PSEL,” jelasnya.
Ia menilai, dengan volume sampah yang mencapai sekitar 700 ton setiap hari, keberadaan PSEL dapat menjadi salah satu solusi strategis untuk mengurangi beban pengelolaan sampah di Kota Bandar Lampung.
Selain mengurangi volume sampah, proyek tersebut diharapkan mampu mendorong sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi sekaligus menghasilkan manfaat berupa energi listrik.
“Kita berharap seluruh tahapan proyek dapat berjalan sesuai jadwal, sehingga target pembangunan mulai 2027 dan penyelesaian pada 2028 dapat terealisasi. Jika proyek tersebut selesai, persoalan sampah yang selama ini menjadi salah satu tantangan perkotaan di Bandar Lampung diharapkan dapat ditangani melalui sistem pengolahan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan,” pungkasnya. (***)







