Bandar Lampung –
Ada sebuah Kereta Gantung (gondola) yang konon akan melayang di langit Bandar Lampung. Bukan gondola biasa, melainkan proyek bernilai Rp2,5 triliun yang di gembar gemborkan kepala daerah Eva Dwiana, mimpi dia mampu mengangkat wajah pariwisata Kota Tapis Berseri.
Kala itu pada 2025, gagasan itu terdengar begitu megah. Bayangkan, wisatawan melayang di atas kota, menikmati pemandangan dari ketinggian, lalu berwisata menuju destinasi yang direncanakan pemerintah. Bandar Lampung seolah sedang bersiap memasuki babak baru pariwisata modern.
Namun, waktu terus berjalan.
Tahun berganti, kalender bergeser menuju penghujung akhir tahun 2026, gondola itu seolah sudah terbang jauh. Di lapangan, pembangunan fisiknya belum terlihat.
Lantas, gondola itu sedang menuju kenyataan atau justru tersangkut di antara pidato, rencana, dan harapan?
Tentu saja, ini bukan kisah tentang kereta gantung yang kehilangan kabel. Ini kisah tentang sebuah janji pembangunan yang kini menuntut penjelasan.
Dari Rumah Dinas ke Batu Putu, Lalu ke Mana?
Dalam cerita yang pernah beredar celetukan Walikota, jalur gondola mula-mula direncanakan menghubungkan rumah dinas wali kota dengan Pulau Kubur. Belakangan, rutenya bergeser menuju kawasan Air Terjun Batu Putu.
Perubahan rute bukan sesuatu yang otomatis salah. Perencanaan proyek besar memang bisa berubah mengikuti kajian teknis, kelayakan, dan pertimbangan investasi.
Tetapi, bukankah perubahan besar seharusnya diikuti penjelasan yang tak kalah besar?
Proyek senilai Rp2,5 triliun tidak bisa dibangun hanya dengan modal optimisme.
Angka sebesar itu membutuhkan kepastian, bukan sekadar kabar yang membuat orang berdecak kagum.
Investor Tak Bisa Dipanggil dengan Janji
Dalam cerita fiksi ini, bayangkan seorang investor duduk di sebuah ruangan, membuka peta Bandar Lampung, lalu bertanya kepada pejabat yang menemuinya.
Pejabat itu membuka dokumen. Investor menunggu jawaban.
Di sinilah persoalan investasi sesungguhnya dimulai. Bukan ketika sebuah proyek diumumkan, melainkan ketika gagasan harus dibuktikan secara terang benderang.
Namun, pertanyaan di dalamnya relevan untuk setiap proyek besar yang ditawarkan kepada investor.
Jika gondola memang diproyeksikan menarik investasi dari Tiongkok, masyarakat berhak mendapatkan penjelasan mengenai status komitmen investor.
Apakah sudah ada perjanjian? Apakah masih dalam penjajakan? Atau masih menunggu berbagai persyaratan.
Jangan Sampai Gondola Hanya Mengangkut Harapan
Eva Dwiana tentu memiliki ruang untuk menawarkan gagasan pembangunan dan menarik investasi.
Namun, setiap gagasan besar juga membawa tanggung jawab besar untuk menjelaskan perkembangannya.
Jika proyek gondola masih berjalan, sampaikan tahapannya.
Jika ada kendala, jelaskan persoalannya.
Jika investor belum memberikan kepastian, sampaikan apa adanya.
Masyarakat tidak meminta kereta gantung itu langsung melayang besok pagi. Masyarakat hanya membutuhkan informasi yang terang mengenai nasib rencana Walikota Eva.
Kota tidak dibangun dengan imajinasi semata. Kota dibangun melalui perencanaan yang matang dan investasi yang jelas.
Akhirnya, gondola Rp2,5 triliun itu menghadapi dua kemungkinan dalam imajinasi masyarakat. Menjadi ikon wisata yang benar-benar terwujud, atau menjadi simbol sebuah rencana besar yang tak kunjung meninggalkan kertas.
Wasalam
Penulis Muhammad Alvacino







