KONTEN POP UP
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Color Run HUT Kota Bandar Lampung Meriah, Dimana Identitas Budayanya?

Foto Kino/pojoksumatera

Perayaan HUT Kota Bandar Lampung ke-433 dimeriahkan kegiatan color run memang berhasil menghadirkan suasana semara yang menghibur.

Ribuan peserta, termasuk aparatur pemerintah daerah, tampak menikmati acara dengan menari dan saling melempar bubuk warna.

Tapi, di balik kemeriahan itu muncul pertanyaan penting, apakah kegiatan tersebut benar-benar merepresentasikan budaya Kota Bandar Lampung?

Penyebutan color run sebagai “budaya” perlu dikaji secara kritis. Secara historis, color run bukanlah budaya yang lahir dari masyarakat Lampung maupun Indonesia.

Kegiatan itu berasal dari Amerika Serikat dan hanya mengambil inspirasi dari festival Holi di India. Karena itu, ketika acara tersebut dijadikan ikon utama dalam perayaan hari jadi kota, muncul kesan bahwa pemerintah lebih memilih tren hiburan populer dibandingkan mengangkat kekayaan budaya lokal.

Padahal, Lampung memiliki warisan budaya yang sangat kaya, mulai dari tari tradisional, musik, adat istiadat, hingga berbagai tradisi masyarakat yang dapat menjadi pusat perhatian dalam perayaan hari jadi daerah.

Ulang tahun kota seharusnya menjadi sarana memperkuat identitas lokal dan memperkenalkan nilai-nilai budaya Lampung kepada generasi muda.

Baca Juga:  Pajak Lancar, Jalan Bergetar

Bukan berarti color run tidak boleh diselenggarakan. Kegiatan ini memiliki sisi positif karena mendorong masyarakat untuk berolahraga, mempererat kebersamaan, dan menciptakan suasana gembira. Tetapi akan lebih bijak apabila acara semacam ini ditempatkan sebagai hiburan atau olahraga rekreasi, bukan sebagai representasi budaya kota.

Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa kemeriahan sebuah perayaan tidak menggeser esensi dari peringatan hari jadi daerah itu sendiri.

Ulang tahun kota bukan sekadar pesta dan hiburan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan sejarah, identitas, dan arah pembangunan daerah. Tanpa penguatan unsur budaya lokal, perayaan yang meriah berisiko menjadi sekadar seremoni yang kehilangan makna dan jati dirinya.

Oleh: Muhammad Alvacino

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *