KONTEN POP UP
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Alzier: Kematian Gajah Indra Tak Boleh Berlalu Tanpa Evaluasi

Foto Ist

Bandar Lampung, pojoksumatera.id – Tokoh masyarakat Lampung, M. Alzier Dianis Thabranie, menyampaikan duka mendalam sekaligus melontarkan kritik keras atas meninggalnya Gajah Sumatera jantan Indra, satwa konservasi yang telah mengabdikan hidupnya selama lebih dari 30 tahun menjaga kawasan hutan di Lampung.

Bagi Alzier, kepergian Indra bukan sekadar kematian seekor gajah, melainkan hilangnya salah satu “pahlawan hutan” yang selama puluhan tahun berada di garis depan membantu upaya konservasi.

“Namun, kenapa para petugas yang diamanatkan negara menjadi teledor seperti itu? Ini sangat memprihatinkan sekali,” kata Alzier, Sabtu (11/7/2026).

Indra mengembuskan napas terakhir di Taman Nasional Way Kambas pada 22 Juni 2026 pukul 11.06 WIB dalam usia 42 tahun. Gajah asal Desa Karang Sari, Lampung Timur, itu diketahui mengalami penurunan kondisi fisik akibat cedera lama yang diperparah faktor usia.

Sejak bergabung dengan Pusat Latihan Gajah Way Kambas pada 1995, Indra menjadi salah satu gajah patroli andalan. Ia terlibat dalam berbagai operasi konservasi, mulai dari patroli perlindungan kawasan, evakuasi gajah liar, hingga penanganan konflik antara manusia dan satwa liar di berbagai wilayah Lampung.

Menurut Alzier, pengabdian panjang Indra seharusnya mendapat penghormatan dan perawatan terbaik hingga akhir hayatnya.

Baca Juga:  Ketua DPRD Lampung Apresiasi Program Tambah Daya PLN Bulan Ramadhan

Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, pada akhir 2017 kendaraan yang mengangkut Indra mengalami kecelakaan setelah membantu penanganan konflik satwa di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Akibat kecelakaan tersebut, Indra diduga mengalami cedera serius pada tulang belakang yang menjadi awal penurunan kesehatannya. Sejak saat itu, Indra dipensiunkan dari tugas lapangan dan menjalani perawatan intensif.

Meski sudah tidak lagi bertugas, Alzier menilai Indra tetap menjadi simbol perjuangan konservasi di Way Kambas.

Namun, Alzier mempertanyakan kronologi sebelum kematian Indra. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, pada sore 21 Juni 2026 Indra menjalani aktivitas rutin mandi di area rawa. Saat hendak kembali ke kandang, tubuhnya tiba-tiba ambruk.

“Ini kan aneh. Berarti ada kelalaian dari petugas pemelihara,” ujarnya.

Ia mengatakan, tim penyelamat memang telah berupaya memberikan pertolongan selama lebih dari 20 jam. Namun, kondisi fisik Indra yang sudah sangat lemah membuat seluruh upaya penyelamatan tidak membuahkan hasil.

Bagi Alzier, jasa Indra terhadap pelestarian alam tidak dapat dipandang sebelah mata. Selama lebih dari tiga dekade, gajah tersebut turut menjaga habitat Gajah Sumatera yang kini terus terancam akibat penyusutan hutan dan konflik dengan manusia.

Baca Juga:  Alzier: Jangan Hanya Pekerja, Pemodal Tambang Emas Ilegal Harus Diusut

“Ketika banyak orang bahkan tidak pernah melihat gajah liar secara langsung, Indra berada di garis depan menjaga agar spesiesnya tetap memiliki masa depan,” tuturnya.

Kini Indra telah dimakamkan di kawasan Taman Nasional Way Kambas. Namun, menurut Alzier, jejak pengabdiannya akan selalu dikenang sebagai bagian penting dari perjuangan konservasi di Lampung.

Karena itu, ia mendesak pemerintah dan instansi terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pemeliharaan satwa konservasi, terutama satwa yang telah memasuki usia lanjut.

“Buat apa negara memberikan tugas dan menempatkan para petugas kalau sampai teledor dan lalai menangani satwa-satwa tua tersebut,” tegasnya.

Alzier berharap peristiwa ini menjadi pelajaran agar seluruh satwa langka yang dilindungi negara mendapatkan perhatian dan perawatan maksimal hingga akhir hidupnya. (***)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *