Lampung, pojoksumatera.id – Kesulitan petani memperoleh air kelapa untuk bahan baku Pupuk Hayati Cair (PHC) mendorong Pemerintah Provinsi Lampung mencari solusi baru. Melalui reformulasi yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH), air leri atau air cucian beras kini disiapkan sebagai bahan alternatif dalam proses fermentasi pupuk hayati.
Kepala Dinas KPTPH Lampung, Elvira Umihanni, mengatakan penggunaan air leri didasarkan pada hasil evaluasi dan sejumlah penelitian terkait pupuk organik serta pupuk hayati.
“Berbagai penelitian menunjukkan air leri maupun limbah cair tahu memiliki kandungan organik yang dapat dimanfaatkan dalam proses produksi PHC,” kata Elvira, Minggu (24/5/26).
Menurut dia, reformulasi dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap air kelapa yang belakangan sulit diperoleh dalam jumlah besar di tingkat petani.
Meski demikian, Elvira mengingatkan air leri yang digunakan harus bersih dan tidak tercampur bahan kimia seperti deterjen atau air sabun karena dapat mengganggu proses fermentasi mikroorganisme dalam pupuk hayati.
Pemprov juga mendorong kelompok tani bekerja sama dengan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga ketersediaan bahan baku air leri secara berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah daerah membuka akses pasokan air kelapa melalui kerja sama dengan industri pengolahan kelapa, mulai dari usaha kopra hingga produsen nata de coco.
Program pengembangan pupuk hayati berbasis bahan alami tersebut dipastikan tetap berjalan hingga 2026 dengan sejumlah penyempurnaan berdasarkan hasil evaluasi di lapangan.
Di sisi lain, inovasi pupuk organik juga datang dari Koperasi IJP Maju Sejahtera yang menawarkan pupuk hayati cair berbahan maggot dan tanaman kepada Pemprov Lampung.
Produk yang dikembangkan Kelompok Tani Desa Teluk Dalam, Kecamatan Mataram Baru, Lampung Timur itu sebelumnya meraih juara nasional dalam ajang Teknologi Tepat Guna (TTG) 2022.
Namun setelah memperoleh penghargaan, pengembangan produk tersebut disebut belum mendapat dukungan maksimal sehingga petani hanya memproduksinya secara mandiri dalam skala terbatas.
Rahmat Mirzani Djausal mengapresiasi inovasi pupuk hayati berbasis maggot tersebut dan menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk memperluas produksinya.
“Pupuk ini bagus, sudah terbukti dan pernah juara nasional. Dengan bantuan Koperasi IJP Maju Sejahtera, kita siap memperluas produksinya agar dapat digunakan oleh petani Lampung,” ujar gubernur.
Pemprov Lampung optimistis pengembangan pupuk hayati berbasis bahan lokal dan ramah lingkungan dapat meningkatkan kualitas pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. (***)







