KONTEN POP UP
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Gemerlap Penas 2029 di Lampung dan Pesta Pora Seremonial di Atas Nasib Pembudidaya Serta Petani yang Terbanting

Foto Ist

Lampung, pojoksumatera.id – Pemerintah Provinsi Lampung saat ini sedang bersuka cita karena resmi diketok sebagai tuan rumah Pekan Nasional (Penas) Tani dan Nelayan XVIII yang bakal digelar pada tahun 2029 mendatang.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, langsung menebar optimisme bahwa megaproyek berdurasi tiga tahunan ini akan menggenjot urat nadi perekonomian daerah.

Kepastian ini didapat setelah Lampung meraih dukungan 29 pengurus Provinsi Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) se-Indonesia dalam pemilihan yang digelar di Aula Universitas Gorontalo Convention Center (UGCC), Kabupaten Gorontalo, Jumat (19/6/26).

“Tentunya kami sangat menyambut gembira perhelatan Penas Petani Nelayan ini karena kami yakin ajang besar ini mendorong perekonomian daerah. Setelah balik ke daerah, kita langsung action, masih ada tiga tahun untuk kita persiapkan. Dan mudah-mudahan menjadi Penas Petani dan Nelayan terbaik,” ujar Gubernur lewat keterangan tertulisnya.

Namun, di balik selebrasi dan rencana koordinasi venue-venue mewah agar seluruh kontingen bisa “betah dan nyaman” saat gelaran nanti, potret buram justru membayangi para aktor utama acara tersebut, yaitu petani, nelayan, dan pembudidaya ikan di akar rumput.

Berdasarkan data teranyar Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis BPS Provinsi Lampung pada (2/2/26), jargon “kesejahteraan” yang kerap digelorakan pemerintah daerah tampak kontras dengan realitas angka-angka statistik.

Baca Juga:  Konflik Lahan Bakung Udik Memanas, Warga Ngadu ke Pemprov Lampung soal Plang TNI AU

Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung secara umum merosot sebesar 1,52 persen dari bulan sebelumnya.

Ironisnya, penurunan ini didorong oleh anjloknya harga jual komoditas di tingkat produsen akibat kualitas gabah yang memburuk di musim hujan serta melimpahnya pasokan jagung dan cabai merah yang tak mampu diredam oleh tata niaga pemerintah.

Kondisi paling mengenaskan justru mencoreng sektor maritim dan perikanan, sekelompok subjek yang namanya dicatut dalam judul besar Penas.

Saat para pejabat bersiap menggelar “karpet merah” pameran pembangunan hingga studi banding, sektor Perikanan Budidaya di Lampung justru mencatatkan indeks NTP terendah di angka 93,84.

Angka di bawah posisi psikologis 100 ini memotret realitas pahit bahwa pendapatan pembudidaya ikan, yang terpukul jatuhnya harga udang payau, sudah tidak mampu lagi mengejar tingginya biaya modal produksi dan biaya hidup sehari-hari.

Nasib serupa juga membayangi peternak di Lampung yang indeks kemakmuran atau NTP-nya terjerembap ke angka 96,42 akibat menyusutnya permintaan daging sapi dan ayam pasca-musim liburan.

Baca Juga:  Giri Akbar: Presiden Prabowo Sedang Bangun Ekosistem Ekonomi Desa

Sementara itu, meskipun sektor Perikanan Tangkap atau nelayan laut mencatatkan kenaikan indeks sebesar 1,62 persen karena menipisnya tangkapan di pasar, daya beli mereka secara umum tetap rentan diadang beban biaya.

Biaya Buku Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) terus merangkak naik di hampir seluruh subsektor pertanian.

Di sisi lain, harga-harga kebutuhan pokok terus mencekik, memaksa masyarakat perdesaan merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan rumah tangga.

Penas Tani dan Nelayan sejatinya adalah pertemuan akbar tiga tahunan yang menjadi ajang unjuk kebolehan, pertukaran inovasi teknologi, dan jejaring kerja sama.

Namun, jika pemerintah daerah lebih sibuk bersolek menyiapkan fasilitas demi reputasi sebagai “tuan rumah terbaik” ketimbang membenahi hulu ke hilir nasib pembudidaya dan petani yang sedang defisit ekonomi, maka Penas 2029 tak lebih dari sekadar pesta pora seremonial di atas penderitaan para produsen pangan yang makin terjepit. (Red)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *