Bicara soal hibah, kadang saya jadi berpikir bahwa bentuk kasih sayang di dunia ini memang bermacam-macam. Ada yang mengungkapkannya lewat kata-kata manis. Ada yang lewat sebuket bunga. Ada yang cukup dengan ucapan, “Hati-hati di jalan.”
Tapi ternyata ada juga kasih sayang yang levelnya sudah naik kelas. Bukan lagi sekadar ucapan atau bingkisan. Melainkan hibah.
Bukan hibah recehan yang nominalnya bikin dompet tetap santai. Bukan pula uang lima ribu atau sepuluh ribu yang masuk ke kotak amal masjid sambil berharap suara koinnya terdengar jamaah sebelah.
Ini hibah yang kalau disebut angkanya, bendahara langsung mencari kursi untuk duduk lebih nyaman. Hibah yang nilainya puluhan miliar rupiah. Angka yang kalau ditulis nolnya berjejer seperti rombongan pengantar pengantin.
Lalu hibah itu berubah wujud. Bukan jadi payung. Bukan jadi kalender. Bukan jadi mug bertuliskan “Kenang-Kenangan.” Tapi menjadi gedung megah.
Gedung yang berdiri gagah. Temboknya kokoh. Catnya mengilap. Halamannya luas. Bangunannya begitu serius sampai burung yang melintas pun mungkin ikut kagum.
Melihat bangunan itu, masyarakat tentu senang. Sebab pembangunan memang selalu enak dipandang. Seperti gadis bohay. Apalagi kalau gedungnya bagus, besar.
Tapi, seperti biasa, rakyat Lampung punya bakat alami yang sulit dihilangkan.
Mulai muncul, obrolan cobucay di warung kopi menjadi ruang sidang paling demonkrisis di muka bumi.
Menurutmu bagaimana? Kenapa bisa dapat hibah sebesar itu? kata wartaun bertopi yang katanya idealis tapi masih terima amplop tipis. Kalau nginjek kopling masih setengah.
Disambut dengan wartaun gendut kuat makan kuat ngelus pejabat lubi melubi, kebetulan ikut nongkrong biasanya hanya tersenyum. Mereka paham bahwa di negeri kunuha ini, informasi kadang berjalan lebih cepat dari pada kendaraan dinas. “Mungkin ini bentuk sinergi.”
Mungkin juga bentuk harmonisasi. lanjut wartaun bertopi. biar di bilang harmonis. Karena kata “mesra” dalam urusan birokrasi memang terdengar unik.
Kalau benar ingin menunjukkan rasa hormat kepada APeHah, tentu sulit juga kalau harus mengirim bunga setiap minggu. Selain mahal, vas bunganya nanti kebanyakan.
Mengirim parcel juga repot. Mengirim ucapan selamat terlalu biasa. Akhirnya Kelapa Daerah yang berpikir, “Kalau begitu sekalian saja bangun gedung.” Praktis. Bermanfaat dan lebih tahan lama.
Kalau bunga layu dalam tiga hari, gedung bisa bertahan puluhan tahun. Kalau kartu ucapan bisa hilang terselip di laci, gedung tetap berdiri tegak meski musim berganti.
Maka berdirilah bangunan megah itu sebagai simbol bahwa kasih sayang birokrasi ternyata dapat diwujudkan dalam bentuk konstruksi.
Sementara rakyat Lampung hanya bisa lewat di depannya sambil berdecak kagum. “Wah, hibahnya pasti tidak pakai diskon.”
“Ini hibah biasa… atau bahasa cinta versi birokrasi?”







